Kamis, 18 Oktober 2012

“Fa, kamu mau gak jadi pacar aku?”
    Kalimat itu terngiang kembali di telinga ku. Pernyataan dari orang yang sama skali tidak kusukai, tapi bukan berarti benci. Aku sudah terlanjur menganggapnya teman biasa. TEMAN BIASA! Cuma itu dan tak lebih. Tapi dia tetap saja mengejarku, menarik perhatianku dan baik padaku meskipun dia tau bagaimana perasaanku padanya. Ungkapan yang  sudah 3 kali diutarakannya itu padaku, sudah membuatku muak dan kesal. Aku sebal padanya yang gak mau mengerti perasaanku. Yang memikirkan egonya sendiri. Cintakan tidak harus memiliki.
    Benar. Cinta memang tidak harus memiliki, seperti halnya aku. Aku menyimpan perasaan yang dalam pada orang yang sama skali yang gak pernah ngelirik aku. Aku hanya bias memperhatikannya dari jauh. Gak jarang banget ketauan. Apakah ini yang dinamakan karma? Sesuatu yang kita lakukan akan berbalik pada kita? Aku jadi teringat lagu Cokelat yang berjudul karma, tapi lain jalan cerita.
    Selesai makan malam, aku langsung masuk kamar dan kebetulan hp ku berdering. Miko! Layar handphonku menampilkan namanya. Dan kuyakin, pasti dia ingin menagih jawaban yang belum sempat ku jawab kemarin tentang perasaannya dan kurasa dia sudah tau jawabannya. TIDAK! Kejam? Kayaknya itu lebih baik dari pada membohongi diriku dan melukainya di kemudian hari. Dengan berat hati aku menekan tombol dial. Ternyata dugaanku salah. Miko meng-calling aku untuk menginformasikan bahwa disekolah akan diadakan KR Pencinta Alam dan akan mengadakan kemah ditengah alam. Aku sangat senang mendengar berita itu, apalagi aku yang cinta banget dengan yang namanya alam. Senangku seketika bercampur dengan kerisauan. Mungkin karena Miko merasakan kerisauanku. Dia pun mengatakan kalau dia tidak bermaksud apa-apa. Dan dia juga mengatakan tidak memaksaku untuk menerimanya. Dan diakhir kalimat sebelum komunikasi di hentikan dia mengatakan dia tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan hatiku. Perasaanku jadi geli sekaligus gelisah. Andaikan saja aku bukan cewek yang udah buta sama yang namanya cinta, mungkin Miko sudah ku jadikan pacar dari dulu.
    Benar. Aku benar-benar sudah buta dengan rasa cintaku pada cowok rajin, mudah tersenyum serta cerdas dan telah banyak mengukir prestasi itu. Dia juga seorang kapten basket dan pemain band. Tubuhnya yang tinggi atlentis serta wajahnya yang tampan dan putih itu membuatnya benar-benar sempurna. PERFECT. Gak heran saingan ku bejibun.
    Hari ini adalah hari pengumuman terima dan tidak diterimanya menjadi tim KR Pencinta Alam setelah melakukan beberapa kali tes. Hari ini, aku sengaja datang lebih awal untuk melihat hasil pengumuman itu tanpa harus berdesak-desakan. Dugaanku benar. Hanya ada beberapa orang yang berdiri di depan papan pengumuman. Jantungku berdegup kencang. 30 nama tertera di kertas berukuran 210x297mm itu. Aku melihat urutan nama itu dengan teliti dari urutan paling atas. Arifa Karisma Anjani. Ya, itu namaku. Aku lulus seleksi dan sekarang aku anggota KR Pencinta Alam. Akupun melonjak kegirangan. Mereka yang ada didekatku, mengucapkan selamat padaku. Walaupu ada yang hanya menatapku melongo, ntah karna mereka gak lulus ntah karna melihat aku yang terlanjur senang seperti orang gila yang lonjak-lonjak, aku gak peduli. I DON’T CARE!!! Karena melihat telah banyak yang datang mengerubungi papan pengumuman, akupun segera ngacir dari situ dengan perasaan senang dan semangat 45. Karna saking semangatnya,…..
    Brug!!!
    Entah aku yang menabraknya ntah dia yang menabrakku, aku gak tau. Keseimbangan ku hilang, aku terjatuh. Sialnya,saat itu tas yang kubawa sangat berat. Siapa sich yang mau menghancurkan moog bagusku hari ini? Aku memaki-maki orang yang tersebut yang sedang menolongku memungut buku yang ku bawa. Aku benar-benar malu, saat aku melihat orang-orang yang tadinya sibuk melihat papan pengumuman, malah beralih melihatku sambil tersenyum dan tertawa.
    “Maaf” suara penyesalan itu keluar dari mulut cowok yang didekatku saat ini. Dan itu, milik suara orang yang benar dekat dihatiku. Degupan jantung serasa ingin meloncat keluar. Nafasku sesak. Suaraku serak bahkan hilang. Sesaat aku memberanikan diriku untuk melihat wajahnya. Saat itu juga, jantungku berhenti berdetak. Otakku tak mau bekerja sama. Akupun mengambil buku yang masih dipegang oleh cowok yang selama ini aku perhatikan. Bendungan air mataku kebobolan. Aku berlari dari situ sebelum air itu benar-benar jatuh. Aku berlari tanpa tujuan tanpa dapat menghentikan airmataku ini mengalir. Hanya letih yang menghentikan gerakan kakiku. Aku terduduk lesu didepan taman belakang sekolah. Air mataku tergenang membasahi pipiku yang merah menahan tangis, marah, kecewa, dan kacau.semuanya bergabung menjadi satu.bel tanda masuk berbunyi dan aku berniat bolos untuk pelajaran pertama karna aku benar-benar sedang labil.otakku kacau. Hatiku galau. Perasaanku campur aduk. Aku sangat bingung harus melakukan apa. Akhirnya kuputuskan untuk untuk tidak masuk hari ini. Akupun keluar dari pintu belakang yang emang jarang dijaga.
***
    Aku melihatnya tersenyum. Aku mendekatinya, namun dia terus menjauh dan terus menjauh meninggalkanku. Aku tidak mampu menggapainya lagi. “Lucky, jangan tinggalkan aku”. Diapun membalikan tubuhnya menatapku sayu. Senyum tipis keluar dari bibirnya yang putih pucat. Semakin lama senyum itu semakin pudar. Dan menghilang.
    “Fa, bangun Fa. Ini mama, sayang”
    Itu suara mama. Kenapa mama menangis? Kepalaku sakit. Aku membuka mataku. Silau lampu memasuki mataku dan dengan refleks ku tutup mataku kembali.
    “Buka matamu pelan-pelan,Fa” Mama menyuruhku membuka mata. Dan sekali lagi, aku mencoba membuka mataku lebih perlahan. Aku dikelilingi oleh orang-orang yang ku kenal, bahkan sangat ku kenal. Mama adalah orang pertama yang kulihat. Matanya merah dan sembab karna menangis. Raut wajah papa yang penuh kekhawatiran sambil menggendong Risya, adikku satu-satunya berumur 4 tahun yang sedang menangis. Dan yang terakhir abangku yang juga satu-satunya menatapku pilu. Apa yang terjadi padaku? Tangan kiriku berslang infuse. Apa yang terjadi padaku?
Berangsur-angsur ingatanku pulih. Truk kuning yang melaju kencang. Aku yang ada ditengah jalan. Seseorang mendorong ku..Seseorang?? seseorang itu adalah Lucky. Ya, waktu itu Lucky yang mendorongku ketepi…Lucky…
    “Ma, Luc…lucky mana ma?? Dia baik-baik sajakan, ma?? Dia selamatkan, ma??” Mama diam. Aku beralih menatap papa dan abangku. Mereka tetap diam.
    “Pa, Ma,,.. bagaimana keadaan Lucky. Bang pasti taukan bang keadaan Lucky?” Perasaanku tidak enak. Air mataku mengalir.
    “Bang, Fa mohon. Beri tau aku apa yang terjadi pada Lucky?”
    “Luc…Lucky…Lucky meninggal, Fa” Aku terhenyak. Aku berharap ini hanya mimpi buruk. Dan aku akan segera bangun dari mimpi  ini. Tidak mungkin Lucky pergi begitu cepat. Tuhan tidak mungkin sejahat ini padaku. Dia tidak mungkin memanggil Lucky begitu cepat. Semua hening. Pikiranku kacau. Cicak yang sedang mencari mangsa pu ikut diam seperti merasakan perasaanku. Hanya waktu yang tidak mau menunggu. Akupun semakin jauh dari sadar. Badanku lemah serasa tidak bertulang. Dan aku semakin lemah sampai tidak sadar diri.
***
    Pemakaman jenazah Lucky baru selesai dilaksanakan. Aku yang memaksa ikut mengikuti pemakaman tersebut terus mengeluarkan air mata. Mama terus membujukku untuk pulang. Namun, tidak ku hiraukan. Aku masih ingin melihat tempat peristirahatan terakhir Lucky. Bayangan truk yang menumbruk tubuh Lucky masih teringat jelas di kelopak mataku. Benar-benar peristiwa yang tragis. Aku merasa bersalah pada Lucky. Kenapa harus dia yang menanggung semuanya. Kakiku tak tahan lagi menopang tubuhku. Kesadaranku kembali melemah. Keringat dingin mengalir ke tubuhku. Peristiwa itu membuatku kehilangan orang yang aku sayangi dan aku cintai dan dia pergi tanpa tau bagaimana perasaanku padanya. Dia pergi tanpa mengucapkan apa-apa. Dan aku gak sanggup berpikir lagi.

    Kulipat kembali surat yang berupa puisi yang diberikan sahabat Lucky kepadaku. Dia mengatakan puisi itu telah lama ada, tapi dia tidak berani memberikan itu padaku. Tetesan demi tetesan yang mengalir dari mataku membasahi amplop putih bergambar hello kitty itu. Ternyata selama ini, cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Orang yang selama ini aku cintai dan aku perhatikan, ternyata lebih mencintaiku dan memperhatikanku. Andaikan waktu bias kembali. Peristiwa ini tidak akan terjadi. Lucky pergi memendam perasaannya dan tanpa tau perasaanku padanya.

            Mendungnya langit menjadi cerah hadirnya dirimu
            Sekilas senyum keikhlasan dari bibirmu
            Menghancurkan batu es yang dingin
            Canda tawa yang kau lantunkan
            Menyempurnakan hariku
            Hari terasa begitu cepat
            Benih cinta yang tumbuh liar dengan indah
            Kadang membuatku takut
            Takut kehilangan senyummu
            Takut kehilangan tawamu
            Takut mengeluarkan air matamu
                Pandanganku melayang menembus cahaya
                Mengharapkan Surga Cinta
                Walaupun ragaku terikat sosok kegelapan
                Tetapi ku tak akan bias melupakanmu
                Karna kau telah hidup dihatiku
                Sampai akhir hayatku
                Kematian dating menjemputku
                Aku akan selalu memohon kepada Tuhan
                Untuk menyatukan kita di Surga Cinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar